< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Sabtu,24 Agustus 2019

Apakah Nama Jawa Tergerus Nama-nama yang Kebarat-baratan?

Berita Apakah Nama Jawa Tergerus Nama-nama yang Kebarat-baratan? terbaru hari ini 2019-01-11 10:46:01 dari sumber yang terpercaya

Wacana untuk melarang orang tua memberi nama anak dengan nama kebarat-baratan sempat diusulkan DPRD Karanganyar, Jawa Tengah dan jadi bahan perdebatan.

Usulan ini sempat masuk dalam pembahasan pra rancangan peraturan daerah (raperda) tentang pelestarian budaya dan kearifan lokal, walau akhirnya usulannya dipatahkan karena pertimbangan hak asasi. BBC Indonesia merangkum kontroversinya untuk Anda.

Ketua DPRD Karanganyar, Sumanto menjelaskan usulan terkait penggunaan nama-nama Jawa itu berasal dari kalangan masyarakat dan anggota dewan tahun lalu.

Mereka mengajukan usulan tersebut karena saat ini nama-nama asli Jawa sudah semakin jarang, pasalnya anak-anak yang lahir sekarang ini banyak menggunakan nama-nama orang barat.

"Dalam rangka melindungi dan melestarikan budaya lokal, DPRD saat itu akan membuat perda soal pelestarian budaya dan kearifan lokal.

Dalam perjalanannya itu, ada yang usul soal nama, sekarang kan nama-nama yang asli Jawa semakin terdesak. Anak-anak yang lahir sekarang ini banyak yang namanya kebarat-baratan sehingga timbul usulan itu," kata dia kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq untuk BBC Indonesia.

Sumanto pun mengungkapkan fenomena yang ada di Karangayar saat ini menunjukkan bahwa nama anak-anak dengan nama Jawa semakin jarang.

Bahkan, fenomena itu bisa dilihat langsung di sekolah-sekolah bahwa para siswa banyak yang tidak menggunakan nama-nama Jawa.

"Nama-nama anak sekarang dengan menggunakan nama Joko sudah jarang, terus nama Santoso juga sudah jarang. Pakai namanya kebarat-baratan," ujarnya.

Usul Kandas karena Diprotes

Hanya saja usulan soal agar orang tua tidak memberikan namanya dengan nama kebarat-baratan telah berhenti saat pembasahan usulan pra raperda. Usulan soal pemberian nama anak itu hanya wacana sebagai bagian dari tugas menampus asprasi dari banyak orang.

"Itu hanya wacana dulu dan sudah lama. Respon masyarakat jadi ramai, kan itu hanya usulan saja di pra raperda," ujarnya.


- Getty Images

Saat perda tentang pelestarian budaya dan kearifal lokal disahkan tahun lalu, soal pemberian nama itu tidak memuat.

"Perdanya hanya mengatur soal perlidungan budaya Jawa dan budaya lokal Karanganyar. Perda itu sekarang sudah ditetapkan dan tidak ada sangkut pautnya dengan nama," tegasnya.

Menurut Sumanto tidak masuknya aturan soal pemberian nama dalam raperda karena banyak pertimbangan. Pertimbangan yang paling utama menyangkut hak asasi manusia terkait pemberian nama anak.

"Kita juga harus paham karena sudah menyangkut hak asasi manusia, hak pribadi dan kita hanya mengingatkan mindset saja. Itu hak pribadi dan tidak perlu diatur," ujarnya.

Menurut dia, perda tersebut disusun terkait perlidungan terhadap budaya lokal. Budaya lokal itu termasuk seni dan budaya seperti kesenian reog, klenengan, merti desa, wayangan dan lainnya.

"Cuma sekarang ini masih ada dan ada beberapa daerah yang masyarakatnya tetap menghendaki budaya itu dilestarikan dan ada yang tidak sehingga timbul perdebatan," kata dia.

Dari Audree sampai Early

Sementara itu salah satu orang tua di Karanganyar mengaku memang kurang sreg dengan aturan itu. Wilis Nurjanah memberi nama anaknya Earlisya Audy Khoirunnisa karena memiliki cerita di balik proses kelahiran putrinya itu.

Sang bayi saat itu lahir ketika usia kandungan baru memasuki usia delapan bulan dari sembilan bulan dari waktu yang telah ditentukan.

"Sebenarnya pemberian nama itu secara mendadak  karena saat lahir usia kandungan delapan bulan. Sebelumnya kita belum tahu jenis kelaminnya apa sehingga belum ada persiapan nama. Karena lahirnya lebih awal, jadi bahasa Inggrisnya itu early. Dari kata itu kemudian ditambah nama papanya, syafaat sehingga menjadi Earlisya," jelas dia.


- Getty Images

Walaupun secara nama mengandung istilah kebarat-baratan, namun Wilis mengungkapkan jika pemberian nama anak itu merupakan hak personal dari masing-masing orang tua.

"Meski nama kebarat-baratan tapi nilai-nilainya tetap Indonesia dan budaya daerahnya. Tepo seliro kita, adat kita ke orang dan sopan itu masih kental Jawanya. Apalagi di sekolah sekarang mementingkan budi pekerti sehingga insyaallah budaya Jawa tidak akan luntur dan budaya tetap tidak akan hilang," ujarnya.

Orang tua lainnya, Ratih Suryaningtyas menamai anaknya dengan nama Audree Micaella Latisha. Dinamai Audree karena ayahnya bernama Andri setelah diotak-atik nama tersebut pun menjadi Audree untuk nama anak perempuannya. Sedangkan nama Micaella berasal dari nama malaikat Mikail, namun karena anaknya perempuan sehingga nama malaikat itu ditambah menjadi Micaella.

"Saya sebagai orang tua tidak mengacu kebarat-baratan atau ketimur-timuran untuk memberi nama. Yang penting mencari nama yang baik untuk anak. Kan itu hak masing-masing orang tua untuk memberi nama anaknya. Mau barat, timur dan tengah, kita kembalikan ke masyarakat," ucapnya.

Ratih mengungkapkan nama itu tidak berbanding lurus dengan dengan lokasi tempat tinggal serta budaya. Menurutnya dengan nama kebarat-baratan tidak serta merta terus meninggalkan budaya Jawa yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.

"Nama itu lebih universal. Kalau budaya culture itu gimana keseharian dan kebiasaan. Misalnya nama kebaratan tapi kalau hidupnya di Indonesia tetap saja mengikuti kebiasaanm pola hidup dan ikut aturan di sini," tegasnya.

Apalagi seperti dikatakan Ratih bahwa anak-anak dalam kegiatan belajar di sekolah juga diajar dengan budaya yang ada di Indonesia. "Secara kebiasaan dan adat pakai timur, kalau ilmu dan tekonologo ke barat. Jadi harus balance," kata dia.

Di Instagram BBC Indonesia, komentarnya beragam. Sebagian merasa bahwa menamai anak kebarat-baratan tidak masalah. "Yang penting kultur Jawa-nya jangan sampai hilang," kata @langgengasmoro. "Suka-suka orang, yang punya anak mereka, kok kita yang repot?" kata @rifki.fauzan5.

Sementara yang kontra merasa bahwa nama Barat tidak menceriminkan identitas. "Kalau Anda Jawa, ya Jawa saja, kenapa harus kebarat-baratan?" kata @4janss.

"Lucu juga orang tua beri anak namanya Jimmy, Benny, Billy, Selly, Wendy, artinya tidak tahu yang penting terdengar kayak aktor Hollywood. Nama Bejjo, Slamet dan Untung dianggap kampungan, padahal artinya bagus, biar adil, apa nama kearab-araban dilarang juga?" kata @faisholazis.

Author
Penulis

Renne R.A Kawilarang

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.