< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Sabtu,16 Februari 2019

Aturan Otomatis Jadi Pendonor Organ Justru Picu Kelangkaan

Berita Aturan Otomatis Jadi Pendonor Organ Justru Picu Kelangkaan terbaru hari ini 2019-01-04 20:59:01 dari sumber yang terpercaya

Otoritas transplantasi donor organ dan jaringan Australia menilai proposal yang merekomendasikan agar masyarakat secara otomatis menjadi pendonor organ dinilai dapat semakin mengurangi jumlah organ yang tersedia.

Gagasan memaksa orang yang tidak bersedia mendonasikan organ mereka untuk memilih keluar dari daftar pendonor organ adalah salah satu dari beberapa opsi yang bertujuan memerangi perdagangan gelap donor organ illegal di pasar internasional dimana setiap organ bisa dijual dengan harga ratusan ribu dolar.

Gagasan ini diangkat dalam rekomendasi sebuah laporan kepada Parlemen oleh Komite Tetap Gabungan untuk Urusan Luar Negeri, Pertahanan dan Perdagangan tentang Perdagangan Organ Manusia dan Pariwisata Transplantasi Organ.

Namun, Direktur Medis Nasional dari Otoritas Organ dan Jaringan Australia, Helen Opdam, mengatakan sistem opt-out dapat membuat kebingungan tentang keinginan seseorang yang baru saja meninggal dan pada akhirnya mencegah organ mereka digunakan.

"Orang-orang berkata, well, jika kita memiliki opsi keluar dari daftar pendonor organ, semua orang akan mengatakan "ya"," kata Dr Opdam.

"Sebenarnya saya kira tidak akan seperti itu jadinya.

Saya pikir, dalam situasi keluarga tidak mengetahui bahwa orang yang mereka cintai ingin menjadi donor, mereka mungkin akan mengatakan "tidak", bahkan dengan undang-undang anggapan asumsi menyetujui.

"Kami sudah menyaksikan hal itu terjadi di negara-negara dimana ketentuan anggapan/asumsi menyetujui atau opsi keluar dari daftar pendonor diberlakukan."

Mengomunikasikan keinginan kepada keluarga sangat penting

Dr.Opdam mengatakan terlepas dari apakah sistem pendaftaran donasi organ di suatu negara mengadopsi ketentuan opt-in atau opt-out, cenderung ada keinginan untuk menegaskan harapan atau keinginan [mendonasikan organ tubuh] dari orang yang baru saja meninggal sebelum organ tubuh mereka didonasikan kepada orang lain.

Itu berarti pendaftaran donasi organ dengan sistem opt-in perlu memberikan kejelasan lebih daripada sistem opt-out karena orang harus membuat pilihan yang disengaja untuk menjadi donor organ.

Namun, mengkomunikasikan keinginan mendonasikan organ dengan anggota keluarga tetap penting.

Dr Opdam mengatakan di Australia, ketika seseorang memilih untuk tercantum dalam daftar pendonor organ dan telah mengomunikasikan keinginan itu kepada keluarga mereka, sekitar 90 persen keluarga setuju untuk menyumbangkan organ orang tersebut.

Ketika seseorang memilih untuk mendaftar tetapi gagal untuk berbicara dengan keluarga mereka sebelum kematian mereka, angka itu turun menjadi sekitar 50 persen.

Faktor lainnya adalah hanya ada sekumpulan kecil orang dengan organ tubuh yang bisa digunakan untuk dipilih.

Dr Opdam mengatakan hanya sekitar 1.200 orang dalam setahun yang meninggal di rumah sakit dengan ventilator - keadaan yang berarti organ mereka dapat disumbangkan.

"Dari jumlah itu, tahun lalu kami hanya memiliki kurang dari 500 orang yang menjadi pendonor," katanya.

Organ jantung baru memberi hidup baru Wade Eathorne dan anak perempuan Wade Eathorne berfoto dengan ketiga anaknya, Savannah (dipangku), Indiana (kanan), dan Scarlett (belakang).

Supplied: Wade Eathorne

Salah seorang yang mendapat manfaat dari program transplantasi organ Australia adalah pria asal Sunshine Coast, Wade Eathorne, yang menderita serangan jantung parah saat bekerja di bank pada April 2016.

Dia baru berusia 41 tahun saat itu.

"Saya merasa panas dan berkeringat, lalu semuanya menjadi gelap gulita," kata Eathorne.

"Tidak ada rasa sakit."

Eathorne mengaku dia diberitahu bahwa dia harus dihidupkan kembali sebanyak dua kali - sekali di ambulans dan sekali di Rumah Sakit Nambour - dan ketika dia bangun, dia membutuhkan jantung baru, sebuah gagasan yang awalnya dia tolak.

"Saya pikir, "Ini tidak masalah. Saya akan bisa mengatasinya. Saya sudah sembuh dari penyakit sebelumnya. Saya akan baik-baik saja"," katanya.

Pikiran itu segera berakhir begitu jelas betapa jantungnya telah rusak.

"Katup jantung saya meledak dan mereka berpisah terlalu jauh," kata Eathorne.

"Itu tidak bisa diperbaiki dengan pembedahan."

Pada akhirnya, Eathorne beruntung dan sebuah jantung baru untuknya berhasil didapatkan beberapa minggu kemudian, daripada perkiraan dia yang akan memakan waktu selama berbulan-bulan.

Belakangan ini Eathorne sudah dapat pergi ke gym sebanyak empat atau lima kali seminggu dan mengatakan dia merasa seperti pria baru.

Dia dan istrinya Justine sekarang aktif terlibat dalam penggalangan dana untuk membantu orang lain yang membutuhkan donasi organ dan untuk membantu mendanai penelitian donasi organ.

Spesialis transplantasi yang berbasis di Brisbane Dan Chambers mengatakan upaya orang-orang seperti Eathornes dan upaya yang dilakukan oleh Organ dan Tissue Authority telah membantu tiga kali lipat jumlah sumbangan paru-paru di Queensland sela ma beberapa tahun terakhir.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

Author
Penulis

Renne R.A Kawilarang

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.