< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Minggu,15 September 2019

Donald Trump Klaim Berhasil Taklukkan ISIS

Berita Donald Trump Klaim Berhasil Taklukkan ISIS terbaru hari ini 2018-12-20 09:12:02 dari sumber yang terpercaya

Pasukan militer Amerika Serikat mulai ditarik dari Suriah setelah Presiden Donald Trump mengatakan kelompok yang menamakan Negara Islam atau ISIS berhasil "dikalahkan".

Departemen Pertahanan AS mengatakan penarikan pasukan ini merupakan transisi ke "fase berikutnya" dalam kampanye memerangi ISIS, tetapi tidak dijelaskan detailnya.

Sekitar 2.000 tentara AS telah berperan dalam menyapu kekuatan pasukan ISIS di wilayah timur-laut Suriah, namun demikian kekuatan mereka diyakini masih ada.

Tetapi sejumlah pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan masih menghendaki agar pasukan AS tetap dihadirkan di Suriah untuk memastikan ISIS tidak membangun kekuatan kembali.

Ada pula kekhawatiran bahwa penarikan AS ini akan memperbesar pengaruh Rusia dan Iran di Suriah.

Bagaimanapun, Presiden Trump mengatakan sudah waktunya membawa pasukannya pulang setelah "kemenangan bersejarah" mereka.

Apa reaksi atas putusan pemulangan tentara AS di Suriah?

Israel mengatakan pihaknya sudah diberitahu bahwa AS memiliki "cara lain untuk tetap memiliki pengaruh di wilayah tersebut".

Namun demikian, Israel menyatakan tetap akan "mempelajari kapan persisnya penarikan pasukan itu dilakukan, bagaimana caranya, serta tentu saja implikasinya bagi kami".

Adapun Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan pada TV Channel One bahwa keputusan AS itu dapat menghasilkan "prospek nyata dalam penyelesaian politik" di Suriah.

Keputusan untuk menarik pasukan militernya dari Suriah telah lama diagendakan oleh Presiden Trump.


Pasukan Aliansi Pasukan Demokratik Suriah yang didukung pasukan aliansi pimpinan AS. - Getty Images

Namun demikian, pengumuman itu kemungkinan telah mengejutkan beberapa pejabatnya sendiri.

Pekan lalu, Brett McGurk, utusan khusus presiden dalam koalisi global untuk mengalahkan ISIS, mengatakan kepada wartawan:

"Tidak ada yang mengatakan bahwa (militan ISIS) akan menghilang. Tidak ada yang senaif itu. Jadi kami ingin tetap realistis dan memastikan bahwa stabilitas dapat dipertahankan di wilayah itu. "

Sementara, Departemen Luar Negeri AS tiba-tiba membatalkan acara pertemuan harian dengan pers pada Rabu setelah ada pengumuman penarikan pasukan.

Salah seorang pendukung Trump, Senator Republik Lindsey Graham, yang duduk di komisi persenjataan, menyebut langkah Trump ini sebagai "kesalahan besar seperti yang dilakukan Obama".


- BBC

Dalam serangkaian cuitan, dia mengatakan kelompok ISIS "tidak kalah", dan memperingatkan bahwa penarikan pasukan AS dari Suriah telah menempatkan "sekutu kita, Kurdi, dalam bahaya".

Turki pekan ini mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan peluncuran operasi terhadap milisi Kurdi di Suriah utara, yang merupakan sekutu AS dalam perlawanannya terhadap ISIS.

Juru bicara pemerintah Inggris mengatakan perkembangan terbaru ini "tidak menandakan berakhirnya Koalisi Global atau kampanyenya" dalam memerangi ISIS, dan Inggris akan "tetap berkomitmen" untuk memastikan `kekalahan abadi` kelompok ISIS.

"Masih banyak yang harus dilakukan dan kita tidak boleh melupakan ancaman nyata mereka," demikian pernyataan pemerintah Inggris.

"Ketika situasi di lapangan berkembang, kami akan terus mendiskusikan bagaimana kami mencapai tujuan ini dengan mitra Koalisi kami, termasuk AS."

Kebijakan kacau AS?

Keputusan Presiden Trump membalikkan garis resmi Pentagon dan Departemen Luar Negeri dan menempatkan kelompok Kurdi, yang merupakan sekutu Washington, dalam bahaya yang lebih besar.

Operasi darat militer AS di wilayah timur-laut Suriah selama ini telah melibatkan sekitar 2.000 orang pasukan, atau mungkin lebih, berikut pangkalan udara serta jaringan terkait lainnya.

Tetapi untuk tujuan strategis apa semua itu dilakukan AS di Suriah?

Kelompok Negara Islam atau ISIS berada dalam proses untuk ditaklukkan, sementara Presiden Suriah Bashar al-Assad masih tetap berada di posisinya.

Jika tujuannya adalah untuk menahan pengaruh Iran atau Rusia yang terus meningkat di kawasan itu, maka 2.000 pasukan AS yang tersebar di wilayah yang luas itu kemungkinan merupakan kekuatan yang terlalu kecil untuk melakukan semuanya.

Banyak yang akan melihat keputusan penarikan pasukan AS ini sebagai indikasi lain dari kekacauan dan ketidakpastian yang melingkupi kebijakan AS terhadap kawasan yang penting ini.

Apa arti kehadiran AS di Suriah?

Pasukan AS sebagian besar ditempatkan di wilayah yang dikuasai orang-orang Kurdi yaitu wilayah utara Suriah.

Kerjasama mereka dengan aliansi pejuang Kurdi Suriah dan pejuang Arab, yang dikenal sebagai Pasukan Demokratis Suriah, memegang peran penting dalam menguasai kembali sebagian besar wilayah Suriah dari tangan kelompok Negara Islam, empat tahun silam.

Namun, kelompok Negara Islam belum bisa dikatakan sepenuhnya hilang.

Sebuah laporan dari AS baru-baru ini mengatakan masih ada sebanyak 14.000 anggota militan ISIS di Suriah dan bahkan lebih banyak lagi di negara tetangganya, yaitu Irak - dan ada ketakutan mereka akan beralih ke taktik gerilya dalam upaya untuk membangun kembali jaringan mereka.


- BBC

Namun demikian kerja sama antara AS dan Kurdi telah membuat marah Turki, yang memandang kelompok milisi YPG Kurdi - pasukan tempur utama di Pasukan Demokratis Suriah (SDF) - sebagai perpanjangan dari kelompok Kurdi pro-otonomi di Turki yang ditolak oleh otoritas Turki.

Pada hari Senin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya kemungkinan akan segera memulai operasi militer baru melawan kelompok YPG di Suriah.

Erdogan menambahkan bahwa dia telah mendiskusikan rencananya dengan Trump melalui telepon dan bahwa dia telah memberikan "respons positif".

AS mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah bersepakat menjual sistem rudal kepada Turki senilai US$3,5 milyar.

Disebutkan penjualan rudal itu untuk "meningkatkan kemampuan pertahanan militer Turki dan melindungi sekutu NATO dari kemungkinan serangan musuh".

Author
Penulis

Raden Jihad Akbar

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.