< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Sabtu,24 Agustus 2019

Mengenal Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Radikal Poso

Berita Mengenal Ali Kalora, Pemimpin Kelompok Radikal Poso terbaru hari ini 2019-01-03 09:42:01 dari sumber yang terpercaya

Ali Kalora adalah ‘petinggi’ yang tersisa dari kelompok militan Islam yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, semenjak Santoso alias Abu Wardah tewas dalam penyergapan aparat keamanan pada 2016 lalu.

Dia juga ditunjuk sebagai pemimpin kelompok itu menyusul diringkusnya pentolan kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT) Basri alias Bagong, di tahun yang sama.

Menurut polisi, semenjak dua tahun lalu, kelompok ini mengalami penyusutan jumlah anggota, karena sebagian besar ditangkap atau tewas dalam baku tembak dengan pasukan gabungan TNI-polisi dalam operasi Tinombala.

Ridlwan Habib, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, menilai Ali Kalora tidak memiliki pengaruh sekuat Santoso, yang mampu merekrut puluhan orang. Namun namanya mulai disebut-sebut lagi setelah temuan mayat tanpa kepala di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Montong, Sulteng, baru-baru ini.

Di media, foto terbarunya kembali beredar, yang tampak berbeda dari foto yang dipampang polisi di pusat keramaian di Sulawesi Tengah pada 2016 lalu. Siapakah Ali Kalora?

Bukan Figur Kombatan

Ridlwan Habib menganggap Ali Kalora bukanlah figur kombatan, tidak memiliki keahlian apa-apa, serta kemampuan gerilyanya sangat terbatas, karena dia belum pernah ke medan konflik.

"Kecuali kemampuannya untuk bertahan hidup dalam pelarian," kata Ridlwan dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid, Rabu (02/01).

"Dengan logistik yang terbatas, Ali Kalora bisa menjadi apa saja, menyamar menjadi warga lokal, bahkan petani dan jalan sejauh itu," tambahnya.

Sosok Ali Kalora ini, menurutnya, berbeda jauh dengan bekas pemimpin MIT, Santoso, yang tewas dalam baku tembak dengan TNI-polisi dua tahun lalu. Yang disebut terakhir ini memiliki keahlian propaganda.

Adapun Ali Kalora, tambahnya, saat ini menghindar dari kejaran aparat TNI-polisi dengan "menyamar menjadi warga lokal".

Karena itulah, Ridlwan menilai, insiden baku tembak dan ditemukan korban mutilasi akhir Desember lalu adalah kebetulan belaka.

"Jika itu terencana dan sistematis, akan banyak korban dan tekniknya berbeda, mereka belum sempat kabur jauh, sehingga terjadi kontak senjata," ujarnya.

Ridlwan juga meyakini bahwa MIT gagal setelah salah-seorang pemimpinnya, Santoso, tewas.

"Mujahid Indonesia Timur (MIT) sudah dilupakan, dan dianggap tidak penting lagi bagi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) karena dianggap gagal," kata Ridlwan.

Semula Ridlwan menganggap Ali Kalora sudah menyerahkan diri kepada aparat kepolisian - secara diam-diam - setelah istrinya tertangkap.

"Karena kami tak mendengar kabarnya lagi dari (dusun) Tamanjeka (di Poso) selama 1,5 tahun, tapi ternyata dia masih ada," katanya.

Menapak Jejak Ali Kalora di Hutan-hutan Poso

Silvano Hajid, Wartawan BBC News Indonesia

Pada 2011 lalu, saya meliput insiden penembakan anggota Polisi di Palu, Sulawesi Tengah, yang semula saya kira adalah ulah perampok.

Belakangan, insiden itu merupakan kasus terorisme, di mana para pelakunya kemudian melarikan diri hingga ke Poso. Tetapi saat itu nama Ali Kalora tidak pernah disebut.

Saya ingat, ketika kejar-kejaran antara aparat polisi dan terduga teroris berlangsung selama hampir dua pekan, sekaligus menandakan tahun itu sebagai kemunculan awal kelompok Santoso.

Di tahun itulah, seperti diungkapkan polisi belakangan, Ali Kalora baru bergabung dengan kelompok Santoso.

Saat saya meliput ke Poso pada 2011, kota ini pada malam hari layaknya kota mati, tidak ada yang berani keluar kecuali itu mendesak.

Lima tahun kemudian saya kembali ke Poso dan mendapati kenyataan bahwa kelompok Santoso mampu melipatgandakan anggotanya.

Saat itulah, nama Ali Kalora sudah disebut polisi sebagai salah-seorang pimpinan Mujahidin Indonesia Timur, setelah Santoso dan Basri. Dia sudah menjadi buronan polisi.

Ketika itu saya melihat potret diri Kalora yang brewokan, mengenakan surban, menggunakan rompi, serta berambut gondrong - berbeda sekali dengan foto yang beredar saat ini - yang beredar di masyarakat.

Kali pertama saya ke Lembah Napu ( masih wilayah Poso), sebagai basis Operasi Tinombala, area subur pemasok sayu-mayur ke kota-kota di Sulawesi Tengah, ternyata menarik minat kelompok Santoso untuk bersembunyi.

Jejak-jejaknya ditemukan di ladang jagung, kadang kebun cokelat, bahkan ladang sayur kol. Mereka yang jumlahnya puluhan bersembunyi ke dalam hutan, sesekali ke kebun warga untuk memetik hasil kebun.

Saya juga sempat ke tengah hutan dan menemukan bekas tempat mereka beristirahat. Mereka membangun menara pantau di atas pohon tinggi yang terbuat dari kayu, di bawahnya tersusunlah ranjang-ranjang sederhana yang mengitari bekas api unggun, tempat mereka beristirahat tak jauh dari sungai.

Selanjutnya pada tahun yang sama, saya kembali ke Poso, kala itu Santoso sudah tewas. Tidak lama kemudian, Tini Susanti, istri Ali Kalora- yang sedang hamil tua - tertangkap.

Adapun Al Chaidar, pengamat terorisme serta staf pengajar di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, meyakini Ali Kalora kini merupakan satu-satunya pemimpin MIT yang tersisa. Sebagai pemimpin baru MIT, Ali Kalora disebutnya "tidak memiliki pengaruh yang kuat seperti Santoso".

"Karena sepanjang 2018, hanya menyisakan sekitar empat orang anggota, kemudian bertambah satu orang, sehingga menjadi lima orang," kata Chaidar.

Satu-satunya "kelebihan" Ali Kalora andalkan adalah kedekatannya dengan kelompok militan Islam di Mindanau (Filipina) dan Bima (Nusa Tenggara Barat).

"Dengan afiliasinya bersama kelompok Mindanau dan Bima, dia bisa merekrut anggotanya dari luar Poso, termasuk memperoleh senjata api," katanya.

Jumlah Pendukung Ali Kalora `Bertambah`

Karena jaringannya itulah, Al Chaidar menduga bahwa kelompok itu telah bertambah menjadi belasan orang.

Kepolisian juga memiliki anggapan yang sama bahwa anggota MIT pimpinan Ali Kalora terus bertambah, seperti dinyatakan AKBP Hery Murwono, Kabid Humas Polda Sulteng.

"Saat ini sudah ada tujuh nama yang masuk daftar pencarian orang. Ada kemungkinan jumlahnya bertambah, karena (polisi) masih lakukan penyisiran, di Sausu," kata Hery kepada BBC News Indonesia, Rabu (02/01).

Menurut polisi, kelompok Ali Kalora memiliki teritori di sekitar pegunungan di wilayah Kabupaten Poso, hingga Kabupaten Parigi Mouton.

Bagaimanapun, bergabungnya Ali Kalora dalam kelompok Santoso pada 2011 lalu, juga melibatkan istrinya. Dia dilaporkan mengajak istrinya, Tini Susanti Kaduku alias Umi Fadel, dalam pelarian di belantara hutan Poso.

Sang istri, yang diduga pernah ikut pelatihan menembak oleh kelompok MIT, akhirnya tertangkap pada Oktober 2016 dalam keadaan hamil. Dan di mana sekarang posisi Ali Kalora?

Belum jelas, tetapi Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan, operasi keamanan yang digelar di wilayah Poso, Sulteng, dan sekitarnya itu akan diteruskan "hingga tangan kanan Santoso, Ali Kalora dan Basri" tertangkap.

"Ibarat orang sudah mendesak kemudian kita lepas, kita nanti akan repot lagi ke depan. Tekan dulu mereka sampai tokoh-tokoh penting selesai baik dengan cara keras, koersif, keras, dikejar ditangkap, baik maupun persuasif pendekatan," tegas Kapolri pada pertengahan 2016 lalu.

"Kalau dicabut sekarang ini bisa muncul kembali, rebound, mereka akan melakukan regrouping, konsolidasi kembali. Momentum yang sangat bagus ketika mereka sudah melemah maka kita harus pressure supaya tekanan semakin tinggi," jelasnya lebih lanjut.

Author
Penulis

Syahrul Ansyari

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.