< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Juma`t,14 Desember 2018

Pemerintah Akui, Kompetensi Pekerja TIK di RI Masih Kurang

Berita Pemerintah Akui, Kompetensi Pekerja TIK di RI Masih Kurang terbaru hari ini 2018-10-10 14:38:02 dari sumber yang terpercaya

VIVA – Pertumbuhan teknologi di Indonesia diakui cukup pesat. Penerapannya mulai dari platform Internet of Things (IoT), smart city, sampai menuju digital society. Namun diakui SDM ahli di bidang TIK di Indonesia masih dirasa belum memenuhi kompetensi yang ada di dunia.

Dikatakan Kabag Litbag SDM Kementerian Kominfo, Basuki Yusuf Iskandar, banyak hal yang membuat sumbe daya manusia di bidang TIK memiliki kendala untuk bisa bersaing dengan negara lain. Tak hanya stigma yang sudah tertanam tentang SDM lulusan luar yang lebih baik tapi juga karena memang kompetensi SDM di Indonesia masih dirasa kurang.

"Permintaan SDM  TIK, khususnya terkait dengan skill atau keahlian, sangat tinggi tapi kompetensi kurang. Gapnya masih sangat lebar," ujar Basuki di Jakarta, kepada Viva.co.id.

Basuki Yusuf Iskandar, Sekjen Depkominfo

Kabag Litbag SDM Kementerian Kominfo, Basuki Yusuf Iskandar

Hal ini senada dengan apa yang dipaparkan oleh pihak Kemenristek Dikti. Menurut mereka, dari ribuan lulusan jurusan TIK, hanya sedikit yang diterima bekerja di perusahaan TIK. Bahkan perbandingannya hanya 3 dari 10 lulusan.

"Jumlah (ribuan) itu, antara supply dan demand masih kurang. Baru dari sisi jumlah belum dari kualitasnya. Belum lagi orang yang keluar dari perguruan tinggi jurusan TIK, belum tentu kerja di situ. Itu persentasenya juga tinggi. Secara nasional setahu saya belum. (Data) Terakhir belum terpenuhi," ujar kata Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdiktik, Muhammad Dimyati.

Dimyati menambahkan persebaran perguruan tinggi TIK belum merata di seluruh Indonesia. Tidak sedikit mahasiswa jurusan TIK yang bekerja di luar jurusan kuliahnya. 

"Misalnya di Jawa, jumlah lulusannya sudah tinggi, kebutuhan di luar banyak tapi belum banyak nyebar ke sana, hanya fokus yang seperti itu. Bukan jenuh vertical, tapi jenuh horizontal," kata dia.

Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk bisa menyesuaikan kebutuhan industri dan menyeleraskannya dengan output dari lulusan perguruan tinggi, yang jumlahnya ribuan setiap tahun.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, M. Dimyati

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdiktik, Muhammad Dimyati

Ristek Dikti mengaku telah menyediakan penelitian yang fokus pada bidang-bidang tertentu. 

"Dalam konteks penelitian, kita punya bidang fokus yang dilakukan sampai 2045 atau sebutannya Road Map 2017-2045. Salah satunya ada bidang TIK merupakan fokus riset kita," kata Dimyati. 

Sedangkan Kementerian Kominfo menyiapkan sejumlah beasiswa untuk talenta di bidang TIK. Beberapa diantaranya program talent scholarship untuk 1000 orang. Adapula pendidikan S2 ke negara yang memiliki pertumbuhan TIK yang pesat.

"Dari Kominfo, kita sudah menyiapkan orientasi ke scholarship S2. Kita arahkan ke negara yang pertumbuhan TIK-nya pesat. Bukan hanya teknologinya pesat tapi ekonomi digitalnya juga, seperti China sama India," ujar Basuki. 
 
Melihat adanya industri yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, keduanya melihat dengan positif dan sangat mendukung. Namun di sisi lain, baik Dimyati maupun Basuki melihat harus ada keterlibatan lebih jauh dari industri untuk kampus-kampus yang ada di Indonesia. Basuki menyatakan bahwa saat ini keterlibatan industri dirasa masih belum cukup. 

"Masalahnya enggak cukup. Enggak massif enggak menyentuh skala yang dibutuhkan," ujar Basuki. 

Saat ini, perusahaan yang terdengar giat memacu kompetensi SDM TIK di Indonesia baru Huawei. Perusahaan asal China itu memiliki program yang dinamakan SmartGen. Tahun ini mereka telah menjalin kerja sama dengan delapan universitas unggulan di Indonesia seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Telkom, Universitas Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Multimedia Nusantara. 

Program Smart Generation (SmartGen) diinisiasi oleh Huawei pada 2017 diperluas cakupannya pada tahun ini dengan sasaran penerima manfaat sebanyak 1.000 siswa SMK yang berasal dari 12 SMK di 10 kota di Indonesia (Program SmartGen Penyelarasan SMK dan Dunia Kerja), 300 siswa di satuan lingkungan pendidikan LP Ma’arif NU (Program SmartGen : Smart Community), serta sedikitnya 1,500 mahasiswa di delapan universitas terkemuka di Indonesia.

Berbagai program pelatihan juga dilaksanakan, seperti Huawei Experience Day, Huawei Tech Day, program pelatihan bersertifikat, serta program Seeds for the Future. Hingga saat ini tercatat Huawei Indonesia telah memberikan pelatihan bagi sedikitnya 12.000 tenaga ahli TIK dan pelatihan serta alih pengetahuan bagi lebih dari 3.000 siswa.

Author
Penulis

Siti Sarifah Alia

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.