< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Minggu,25 Agustus 2019

Peretasan Pembelot Korea Utara, Hampir 1.000 Data Pribadi Bocor

Berita Peretasan Pembelot Korea Utara, Hampir 1.000 Data Pribadi Bocor terbaru hari ini 2018-12-30 05:55:01 dari sumber yang terpercaya

Hampir 1.000 pembelot Korea Utara menemukan bahwa data pribadi mereka dibocorkan setelah sebuah komputer di pusat pemukiman kembali Korea Selatan diretas, demikian dilaporkan kementerian penyatuan kembali.

Sebuah komputer pribadi kantor pemerintah ditemukan "terinfeksi sebuah kode jahat".

Kementerian menyatakan ini diduga adalah tahap pertama pembocoran informasi berskala besar yang melibatkan para pembelot Korea Utara.

Jati diri dan asal peretas serangan siber ini masih belum dapat dipastikan.

Pusat pemukiman kembali Gyeongsang Utara adalah satu dari 25 tempat yang dijalankan kementerian untuk membantu 32.000 pembelot yang sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan di Korea Selatan.

Apakah keluarga pembelot dalam bahaya?

Pemerintah Korea Utara tidak mengetahui jati diri semua warga yang membelot. Sebagian dari mereka dikelompokkan dalam kasus "orang hilang" atau mereka kemungkinan tercatat sebagai telah meninggal.

Sekitar 997 pembelot Korea Utara sekarang diberitahu bahwa nama, tanggal lahir dan alamat mereka telah dibocorkan, tetapi belum jelas apa dampak kebocoran ini.

Para pengamat mengatakan muncul sejumlah kekhawatiran bahwa pembocoran ini dapat membahayakan keluarga pembelot yang masih tinggal di Korea Utara.

Sokeel Park, direktur Liberty Korea Selatan di Korea Utara, sebuah LSM internasional yang membantu para pembelot Korea Utara, mengatakan peretasan ini akan membuat para pembelot lain merasa kurang aman untuk tetap tinggal di Korea Selatan. Mereka kemungkinan akan mengubah nama, nomor telepon dan alamat rumah.

Pada tanggal 19 Desember lalu, kementerian penggabungan kembali menyadari terjadinya pembocoran setelah menemukan program jahat yang ditempatkan di sebuah komputer meja di kantor pusat provinsi Gyeongsang Utara.


Ketika pembelot tiba di Korea Selatan, mereka menjalani program pemukiman kembali. - Getty Images

Kementerian unifikasi menyatakan tidak terjadi peretasan komputer pada pusat Hana lainnya di negara itu.

Seorang ahli serangan siber Korea Utara, Simon Choi, meyakini kemungkinan ini untuk pertama kalinya pusat Hana diretas.

"(Terdapat sebuah kelompok peretasan Korea Utara yang) terutama menyasar masyarakat pembelot Korea Utara...kami menyadari bahwa (kelompok ini) berusaha meretas pusat Hana tahun lalu," katanya kepada BBC.

Meskipun demikian, dia menambahkan masih belum jelas apakah terdapat kelompok Korea Utara yang bertanggung jawab atas serangan terbaru.

Kementerian dan polisi saat ini sedang melakukan penyelidikan. Pihak kementerian menyatakan pihaknya akan "berusaha sebaik-baiknya untuk mencegah terulangnya kejadian sejenis".

Korea Utara di belakang sejumlah serangan sebelumnya?

Ahli keamanan siber sejak lama telah memperingatkan terkait dengan semakin canggihnya para peretas Korea Utara.

Pada bulan September, jaksa Amerika Serikat mendakwa seorang pria Korea Utara karena diduga terlibat menciptakan perangkat lunak jahat untuk melumpuhkan sistem kesehatan Inggris.

Peristiwa pada tahun 2017 tersebut membuat staf kementerian kesehatan harus menggunakan bolpen dan kertas karena tidak bisa memasuki sistem komputer.

Salah satu peretasan besar yang dikaitkan dengan Korea Utara pada beberapa tahun terakhir menyasar bisnis hiburan Sony pada tahun 2014 - menghapus data dalam jumlah sangat besar dan menyebabkan tersebarnya email dan data pribadi yang peka.

Media Korea Utara juga sering kali mengancam akan membungkam para pembelot di Korea Selatan yang membuat pernyataan mengejek rezim tersebut.

Sokeel Park mengatakan kepada BBC bahwa serangan siber dan phishing terhadap orang-orang yang bekerja di Korea Utara adalah suatu hal yang umum terjadi.

"Tindakan ini menguntungkan pemerintah Korea Utara karena sangat sulit mengetahui pelaku serangan siber dan pemerintah Korea Utara secara sengaja tidak terlalu bergantung pada internet", kata Sokeel.

Meskipun demikian, pemerintah Selatan saat ini masih belum menyalahkan Korea Utara.

Author
Penulis

Ezra Natalyn

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.