< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Rabu,20 Februari 2019

Sajian Aneh dan Menjijikan Mulai Dilihat jadi Bahan Makanan Alternatif

Berita Sajian Aneh dan Menjijikan Mulai Dilihat jadi Bahan Makanan Alternatif terbaru hari ini 2019-01-10 13:09:03 dari sumber yang terpercaya

Bagi orang Indonesia, memakan jeroan atau bagian-bagian lain dari tubuh hewan, seperti otak dan buntut mungkin sudah jadi hal yang biasa.

Tapi kebanyakan warga yang tinggal di negara-negara barat menganggapnya sebagai "aneh", bahkan "menjijikan."

Saat menjelajahi kawasan Fuzhou, di China tenggara, duo blogger asal Inggris, Chris Behrsin dan Ola Jagielska tak sengaja memesan kodok dari menu berbahasa China, yang disangkanya ayam.

Tapi keduanya malah menyukainya dan belakangan mengetahui jika kaki kodok adalah sumber protein yang baik dan memiliki kandungan omega-3.

Blogger Being a Nomad, yang sudah keliling Asia ini menjadi di antara orang-orang yang semakin banyak mengakui makanan alternatif, setelah mencoba pertama kalinya saat berlibur dan menemukan budaya yang berbeda.

"Semakin mendunia, kita mulai menerima jenis-jenis makanan lain dan menganggapnya normal … serangga, ubur-ubur, cacing, jamur mentah, adalah di antaranya," ujar Chris kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Dua orang berfoto di salah satu tempat di China
Chris Behrsin dan Ola Jagielska membagikan pengalaman mereka keliling dunia di Instagram dan blognya.

Foto: Being A Nomad blog

Selain karena industri pariwisata yang makin marak, para pengamat juga mengatakan penemuan makanan-makanan baru telah dipengaruhi oleh jejaring sosial, globalisasi, serta kekhawatiran soal makanan yang berkelanjutan.

Innova Market Research di Amerika Serikat adalah salah satu perusahaan yang memprediksi konsumen di tahun 2019 akan lebih berani mencoba makanan yang dianggap "aneh".

Produk makanan dari bahan dasar nabati juga akan menjadi tren menggantikan protein hewani, seperti kacang-kacangan dan lentil.

Marmot dipanggang disajikan di sebuah papan kayu
Marmot banyak disajikan sebagai makanan di Peru.

Foto: Disgusting Food Museum, Anja Barte Telin

Juru bicara dari Innova Market Research mengatakan kepada ABC jika tren ini dipengaruhi oleh semakin meningkatnya kesadaran kesehatan, selain juga pertimbangan kesejahteraan hewan, dan lingkungan berkelanjutan.

"Generasi muda (Millennial dan Generasi Z) disebut-sebut akan lebih berhati-hati dengan produk yang hendak mereka beli," ujarnya.

"Bagus atau tidaknya di Instagram menjadi faktor penggerak utama bagi konsumen dari generasi ini."

"Makanan yang baru, unik, kreatif, dengan warna-warni yang funky, bentuk, dan rasanya, menjadi hal-hal yang menyenangkan."

Membuat yang "menjijikan" jadi enak

Kaki babi yang dimasak dengan bawang putih dan bumbu-bumbu lainnya.
Carolyn Phillips mengatakan makanan dari kaki babi ini dipercaya oleh masyarakat Taiwan bisa membantu ibu-ibu memproduksi susu.

Foto: Madame Huang blog

Carolyn Phillips, penulis buku memasak yang meraih sejumlah penghargaan, serta blogger "Madame Huang"s Kitchen", pernah tinggal di Taiwan selama 8 tahun.

Ia mengatakan masakan-masakan Asia seringkali mendapat reaksi negatif di negara-negara barat, karena dianggap menggunakan bagian-bagian "aneh" dari hewan, seperti usus, otak, dan buntut.

Tapi, Carolyn tahu bagian-bagian binatang itu enak jika dimasak dengan cara yang benar, karena "semua bagian tubuh dari hewan itu enak."

"Kadang-kadang kita perlu menutup mata, buka mulut, dan percaya jika orang lain akan membuat bagian menjijikan jadi enak."

"Dengan dunia yang makin mengecil, kita belajar bahwa rasa enak tidak mengenal batasan."

Serangga sebagai sumber protein alternatif

Kara Nielsen, wakil presiden bidang tren makanan dan pemasaran di CCD Helmsman mengatakan kepada ABC bahwa konsumsi serangga secara global mulai bertambah.

"Negara-negara berkembang mencari protein berkelanjutan yang murah," katanya.

"Jumlah [konsumsi serangga] masih sangat kecil di Amerika Serikat, tetapi saya rasa orang-orang muda lebih terbuka untuk memakannya."

Kara mengatakan generasi muda lebih sadar tentang perubahan iklim, dan lingkungan keberlanjutan terus menjadi diskusi global.

Seorang pria memperlihatkan mangkok berisi serangga
Noby Leong telah mengkonsumsi serangga sebagai alternatif sumber protein.

Foto: ABC Catalyst

 

Noby Leong, seorang ilmuwan dan presenter ABC untuk program sains "Catalyst", sudah mengkonsumsi serangga sebagai sumber protein alternatif.

Ia sering membuat roti menggunakan campuran tepung gandum dan jangkrik. Pernah juga menikmati taco, makanan khas Mexico, dengan cacing giling dan tak ketinggalan salad dan "guacamole".

Dr Leong mengatakan serangga adalah alternatif protein yang berkelanjutan, karena membutuhkan lebih sedikit air untuk produksinya. Bandingkan dengan satu kilogram daging sapi yang membutuhkan sekitar 150.000 liter air.

Standar ganda dalam makanan

Para pakar mengatakan salah satu alasan orang Asia lebih terbuka untuk memakan hampir seluruh bagian tubuh binatang adalah karena tidak mau membuang sumber makanan.

Sebagai contoh, kari yang terbuat dari testis sapi adalah hidangan yang banyak ditemukan di Kamboja, seperti halnya gulai otak di Indonesia.

Anjing dalam keadaan utuh yang sudah dibakar dan digantung di jendela restoran
Toko daging anjing di Yulin, kawasan otonomi Guangxi, China yang juga tuan rumah festival makanan daging anjing di musim panas.

Reuters: Kim Kyung-Hoon

 

Dr Leong mengatakan ada "standar ganda" soal masakan asal Asia dan Eropa.

"Makanan Asia ... dengan bahan yang tidak biasa dianggap "aneh", "kotor", dan "menjijikkan"," katanya sambil mencontohkan siput yang dianggap sebagai makanan istimewa di Perancis.

"Tetapi jika bahan-bahan itu digunakan dalam masakan Eropa, [mereka] lebih cenderung dipandang sebagai sebuah kelezatan."

Ia percaya akan ada tren dimana orang-orang tidak mau membuang-buang bahan makanan dan mencoba memasak bagian-bagian tubuh hewan lainnya.

Masakan yang terlihat seperti daging dihidangkan di sebuah piring
"Daging" bebek ini terbuat dari protein nabati.

ABC Landline: Marty McCarthy

 

Pakar makanan juga mengatakan konsumen akan melihat lebih banyak daging vegan alternatif di supermarket pada tahun 2019 ini.

Termasuk "daging" yang terbuat dari gandum dan hidangan laut yang terbuat dari kacang kedelai.

"Banyak dari alternatif ini mungkin tidak terlalu dianggap aneh, tetapi tetap dianggap baru di dunia makanan," kata Kara dari perusahaan konsultan CCD Helmsman di Amerika Serikat.

Ikuti berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.

Author
Penulis

Renne R.A Kawilarang

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.