< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Sabtu,16 Februari 2019

Trump Paksa Mattis Mundur Lebih Cepat dan Tunjuk Menhan Baru AS

Berita Trump Paksa Mattis Mundur Lebih Cepat dan Tunjuk Menhan Baru AS terbaru hari ini 2018-12-24 22:20:01 dari sumber yang terpercaya

Presiden AS Donald Trump memaksa Menteri Pertahanan James Mattis meninggalkan jabatannya lebih awal, dan menunjuk penggantinya untuk mengambil alih posisinya mulai tahun baru.

Jenderal Mattis, yang berusia 68 tahun, sebelumnya menunjukkan perbedaan sikap terhadap kebijakan Presiden Trump saat dia mengundurkan diri pada Jumat lalu.

Dia menawarkan tetap berada pada jabatannya sampai Februari nanti, tetapi dia telah diminta meninggalkan posisinya oleh Trump pada awal Januari ini.

Wakil Menteri Pertahanan, Patrick Shanahan, 56 tahun, akan mengambil alih posisi Mattis sebagai Menteri Pertahanan AS yang baru.

Trump memuji pencapaiannya dan menggambarkan sosok Shanahan sebagai "sangat berbakat".

Shanahan, eks pimpinan pada perusahaan penerbangan Boeing, bergabung ke Pentagon pada Juli 2017 setelah Trump mencalonkannya.

Dia dilaporkan seorang pendukung yang gencar menyuarakan rencana Trump untuk mendirikan cabang keenam angkatan bersenjata, yang dikenal sebagai "pasukan antariksa".

Berasal dari negara bagian Washington, Shanahan belajar teknik mesin dan bisnis di Massachusetts Institute of Technology dan bergabung dengan Boeing sebagai insinyur pada tahun 1986.

Palu Telah Diketukkan

Ana lisa Anthony Zurcher, wartawan BBC News, Washington


James Mattis menunjukkan perbedaan sikap terhadap kebijakan Trump menarik pasukan AS dari Suriah. - Getty Images

Donald Trump awalnya menganggap pengunduran diri James Mattis sebagai "pensiun", tetapi surat pengunduran dirinya - yang penuh kritik terhadap kebijakan luar negeri presiden - menunjukkan bahwa bukan itu masalahnya.

Presiden jarang sekali dapat menegur dengan cara yang baik, sehingga semakin tidak mungkin di tengah kehebohan yang berkembang bahwa mantan jenderal itu tidak akan diizinkan tetap menduduki jabatannya hingga dua bulan ke depan seperti dia minta.

Dan pada Minggu pagi, palu pun diketukkan melalui sebuah cuitan di Twitter Presiden Trump.

Pengganti Mattis adalah Wakil Menteri Pertahanan Patrick Shanahan, yang menghabiskan sebagian besar karirnya di perusahaan penerbangan Boeing.

Sebagai eks pimpinan perusahaan penerbangan yang merupakan rekanan kementerian pertahanan, bahkan secara sementara, merupakan hal yang tidak biasa untuk posisinya di Pentagon.

Ini merupakan jabatan yang biasanya dipegang oleh politisi dengan pengalaman di bidang pengawasan militer.

Sementara itu, presiden tampaknya berusaha memadamkan polemik dengan mencuit di Twitter pada Minggu bahwa penarikan pasukan AS dari Suriah - yang diumumkan secara tiba-tiba pada minggu lalu - akan "berjalan lambat dan akan dikoordinasikan dengan hati-hati".

Bagaimanapun, dengan adanya pemberitaan di seputar Mattis, barangkali ini tidak cukup untuk menenangkan negara-negara sekutu AS dan meredakan kemarahan atas kebijakan luar negeri AS tersebut. Namun, ini merupakan sebuah awalan.

Jenderal Mattis mundur dari jabatan Menteri Pertahanan AS tidak lama setelah Presiden Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik semua pasukan AS dari Suriah.

Meskipun tidak menyebutkan secara langsung dalam surat pengunduran dirinya, sang jenderal sebelumnya memperingatkan bahwa penarikan pasukan itu merupakan "kesalahan strategis".

Dalam suratnya, dia juga mengatakan bahwa presiden memiliki hak untuk menunjuk seseorang "yang pandangannya lebih selaras dengan Anda".

Namun tidak lama setelah mengumumkan pengangkatan Shanahan sebagai pengganti Mattis pada hari Minggu, Trump berupaya meredakan kekhawatiran yang meluas tentang penarikan pasukan AS yang awalnya dia katakan akan berlangsung "cepat".

Trump menulis di akun Twitternya bahwa dia telah berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tentang "keterlibatan kita bersama di Suriah, dan penarikan pasukan AS yang akan berjalan lambat dan sangat terkoordinasi di daerah itu".

Kantor Kepresidenan Turki mengatakan kedua pemimpin sepakat untuk "memastikan koordinasi antara militer, diplomatik, dan pejabat negara masing-masing untuk menghindari kekosongan kekuasaan yang menyusul penarikan pasukan dan masa transisi di Suriah".

Pasukan Kurdi di Suriah, yang dianggap Turki sebagai ancaman, telah berhasil memerangi kelompok Negara Islam atau ISIS dengan dukungan AS.

Mereka saat ini khawatir terhadap Turki yang dianggap akan menggunakan momen penarikan pasukan AS untuk meluncurkan serangan baru terhadap mereka.

Author
Penulis

Renne R.A Kawilarang

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.