< img src="https://d5nxst8fruw4z.cloudfront.net/atrk.gif?account=Uueio1IWNa10zM" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Minggu,15 September 2019

Warga Australia Belanja Hingga Rp514 Triliun Jelang Natal

Berita Warga Australia Belanja Hingga Rp514 Triliun Jelang Natal terbaru hari ini 2018-12-20 14:56:01 dari sumber yang terpercaya

Warga Australia diperkirakan membelanjakan uang senilai 51,4 miliar dolar AUS (sekitar Rp 514 triliun) dalam beberapa minggu hingga menjelang Natal 2018. Namun apakah makna Natal semata soal materi dan konsumerisme?

Asosiasi Peritel Australia (ARA) dan Roy Morgan Research memperkirakan dalam enam minggu menjelang Natal belanja mencapai 51,4 miliar dolar atau 2,9 persen lebih tinggi dari tahun lalu.

Direktur Eksekutif ARA Russell Zimmerman mengatakan, lebih dari 20 miliar di antaranya akan dihabiskan untuk belanja makanan, disusul barang-barang rumah tangga dan pakaian.

Natal itu waktu bersama keluarga Kim Burns with her students dressed up in Christmas gear with her instruments. Kim Burns mendorong murid-muridnya lebih mengutamakan waktu bersama keluarga daripada konsumerisme pada saat Natal.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Namun Kim Burns, guru musik di Bendigo Special Development School, mempertanyakan konsumerisme di seputar Natal.

Dia banyak bekerja untuk murid-murid dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah. "Mereka sudah terbiasa tidak berharap banyak untuk Natal," kata Burns.

Dia menciptakan parodi dengan menulis ulang lagu-lagu Natal tradisional untuk mempertanyakan konsumerisme. Parodi ini dipentaskan murid-muridnya.

"Saya mengajar anak-anak bahwa Natal itu menghabiskan waktu bersama keluarga," katanya.

"Jangan sampai berharap akan mendapat banyak hadiah karena Natal bukan tentang itu," ujar Burns.

Dia senang karena banyak muridnya yang menyadari hal ini.

Mengabdi untuk masyarakat Peg Higginbottom in her kitchen at Barfold in central Victoria. Peg Higginbottom menyebut bagi sebagian orang Natal mungkin merupakan masa-masa sulit.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Lain lagi bagi aktivis Asosiasi Perempuan Pedalaman (CWA) Higginbottom.

Dia terlibat dalam kegiatan organisasi ini dan secara aktif terjun ke masyarakat di pedalaman Victoria.

Sebagian besar kegiatannya berupa penggalangan dana untuk membeli karpet bagi TK setempat, membantu tim sepakbola wanita, serta mengumpulkan dana bantuan kemarau.

Pada hari Natal, selain mempersiapkanĀ jamuan makan siang bagi ratusan warga, Higginbottom juga membuat kue untuk keluarganya.

"Memberi kepada komunitas merupakan hal yang luar biasa," katanya.

Hadiah hujan Farmer Cam Parker sitting on a hay bale with his toddler son Freddie. Petani Cam Parker berharap cuaca yang bersahabat selama musim liburan Natal.

Supplied: Amanda Parker

Bagi petani bernama Cam Parker, hadiah Natal terbaik adalah hujan.

Tadinya dia bekerja sebagai manajer supermarket, namun memutuskan jadi petani bersama istrinya Amanda. Mereka menggarap lahan sendiri dan juga bekerja sebagai penyemprot untuk salah satu pertanian besar.

Sebagian besar produksi pertaniannya dipanen sebelum hujan belum lama ini. Artinya, kini ia punya banyak waktu bersama keluarga dan kerabat.

Hadiah Natal berupa hujan sudah diperoleh Parker. Namun dia tak henti-hentinya berdoa bagi cuaca yang bersahabat.

"Petani selalu meminta hujan yang tepat pada waktunya dan harga produk yang bagus. Itulah yang kami harapkan," kata Parker.

Melayani kemanusiaan Rozita Yaganegi at home in Bendigo. Rozita Yaganegi yang menganut agama Bahia berharap fokus Natal bukan materi.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Bagi Rozita Yaganegi, pendatang dari Iran yang beragama Baha"i, tidak ada saling tukar hadiah di saat Natal.

"Baha"i adalah bagaimana umat manusia bersatu. Kami menganggap kita semua sama, setiap manusia diciptakan dengan kebaikan dan karakteristik dari Tuhan," kata Yaganegi.

Selain inklusif, kepercayaan Baha"i fokus melaksanakan pekerjaan melayani kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

"Orang Baha"i percaya untuk melayani umat manusia," kata Yaganegi.

Dia merasa sangat istimewa menjadi penganut Baha"i dan karena itu harus dibagi kepada masyarakat lainnya.

Pada hari Natal, keluarga Yaganegi tidak memasang dekorasi atau bertukar hadiah.

"Kita harus terlepas dari hal-hal materi, perlu lebih inklusif, lebih mencintai, dan memperhatikan kebutuhan orang lain," katanya.

Waktu memperbaiki diri Medical oncologist Dr Robert Blum at Bendigo Hospital s cancer ward. Dokter Robert Blum mengatakan Natal merupakaan saat memperbaiki diri.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Ketika dokter ahli onkologi Robert Blum mulai jalani pendidik dokternya, dia sudah menyadari keinginannya bekerja untuk pasien kanker.

Dia mengaku tidak mudah untuk berada dalam posisinya yang istimewa.

Tak jarang, katanya, dia harus mengakui betapa sulitnya situasi yang dihadapi pasien. "Kami tidak punya jawaban untuk semua masalah," katanya.

Saat Natal, suasana kegembiraan perayaan seringkali bertentangan dengan kabar mengenai kondisi kesehatan pasien yang tak terduga.

"Mengingatkan bahwa mereka sebenarnya tak punya waktu lagi untuk Natal. Menambah rasa betapa kita tidak kekal," kata Dr Blum.

Natal, katanya, merupakan saat menghabiskan waktu bersama, serta saat memperbaiki kesalahan dan menikmati kebersamaan satu sama lain.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.

Author
Penulis

Ezra Natalyn

Mungkin yang Anda suka
Jadilah orang pertama yang menuliskan komentar! Tulis komentar

Tinggalkan komentar

**) Dengan mengirim komentar ini artinya Anda setuju dan patuh dengan syarat dan ketentuan kami.